Nantikan info terbaru di KKMI Zliten

black blue and yellow textile

Biografi Imam Malik

Ulama Agung Imam Mazhab Ahlul Madinah

Biografi Imam Malik

اَلْمَذَاهِبُ كُلُّهَا مَسَالِكُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَطُرُقٌ إِلَى الْخَيْرَاتِ، فَمَنْ سَلَكَ مِنْهَا طَرِيقًا وَصَّلَهُ

(شرح تنقيح الفصول)

Semua madzhab adalah jalan-jalan menuju surga dan merupakan cara-cara menuju berbagai kebaikan. Maka siapa saja yang menempuh salah satu jalan darinya, niscaya jalan itu akan mengantarkannya (kepada tujuan tersebut).

Diantara Imam Madzhab yang masyhur dikalangan umat islam adalah Imam Malik rahimahullah. Beliau merupakan salah satu ulama yang gagasan pemikirannya dalam hukum islam masih di amalkan oleh sebagian umat islam di dunia ini. Diantara negara yang menganut Madzhab Maliki adalah Libya, Tunisia, Maroko dan negara-negara afrika utara yang lain.

Sebab tersebarnya Madzhab Maliki diantaranya karena Imam Malik bermukim di Madinah. Dan Madinah merupakan tempat singgah umat Islam setiap tahunnya untuk melakukan ibadah haji.

Imam Malik termasuk ulama agung dalam Islam. Beliau juga merupakan guru dari Imam Syafi'i. Beliau dijuluki Imam Darul al-Hijrah karena orang-orang pada waktu itu mereka mendatangi Imam Malik untuk berguru kepadanya. Beliau juga dijuluki Faqihul Ummah (ahli fiqih dizamannya)

Julukan beliau Abu Abdillah dan Nama beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi 'Amir bin 'Amr bin Ghaiman bin Khutsail bin 'Amr bin al-Harits al-Ashbahi.

Imam Malik bin Anas lahir di Madinah tepatnya di desa Dzu Marwah pada tahun 93 Hijriyah. Bertepatan pada tahun wafatnya Sahabat Nabi yang Agung Anas bin Malik al-Anshory Khadim Nabi ﷺ.

Imam Malik tumbuh dalam keluarga yang ahli ilmu dan fiqih. Ayahnya adalah seorang yang bertakwa dan cerdas, beliau mendidik anak-anak nya dan mengajarkannya serta mengarahkannya kepada ilmu dan fiqih. Beliau adalah salah seorang periwayat hadits.

Pengaruh orang tua terhadap anaknya sangat besar oleh karena itu Imam Malik seperti yang kita kenal sekarang ulama madzhab yang pendapatnya masih bertahan meskipun melewati kurun waktu yang lama. Imam Malik diarahkan Ibunya sejak dini. Sebagaimana disebutkan bahwa " Dahulu ibuku memakaikan jubah padaku dan memakaikan sorban pada waktu aku kecil. Dan mengarahkanku agar pergi ke Rabi'ah bin Abi Abdirrahman dan berkata :

يَا بُنِيَّ، ائْتِ مَجْلِسَ رَبِيعَةَ، فَتَعَلَّمْ مِنْ سَمْتِهِ وَأَدَبِهِ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ مِنْ حَدِيثِهِ وَفِقْهِهِ

Wahai anakku pergilah ke Majlis Rabi'ah. Pelajarilah dari akhlak dan adabnya sebelum kamu mempelajari hadits dan fiqih darinya."

Imam Malik belajar kepada 900 guru. 300 dari kalangan tabi'in dan 600 dari kalangan tabi'it tabi'in. Diantaranya adalah Imam Nafi' al-Qari', Imam Rabi'ati ar-Ra'yi, Imam Nafi' Maula ibni Umar, Imam Ibni Hurmuz, Ibni Syihab az-Zuhri dan lain-lain.

Cara Imam Malik dalam mengajar ada 2 macam. Pertama ketika beliau mengajar hadits dan kedua ketika beliau mengajar fiqih. Qadhi Iyadh meriwayatkan dari Muthorrif. "Pada waktu ketika Imam Malik didatangi oleh sekelompok orang. Pelayan perempuannya keluar menemui mereka dan berkata : Syekh (Imam Malik) bertanya kepada kalian. Apakah kalian ingin belajar Hadits atau belajar Masail (Fiqih). Ketika mereka menjawab Masail maka Imam Malik langsung keluar dan mendatangi mereka. Ketika mereka menjawab Hadits

beliau berkata kepada mereka: “Silakan duduk.” Lalu beliau masuk ke tempat mandinya, mandi, memakai wewangian, mengenakan pakaian yang baru, memakai jubahnya, memakai sorban, dan meletakkan selendang di atas kepalanya.

Kemudian disiapkan untuknya mimbar kecil, lalu beliau keluar menemui mereka dalam keadaan telah berpakaian rapi dan memakai wewangian, dengan penuh kekhusyukan. Dan diletakkanlah kayu gaharu (untuk dibakar), sehingga beliau terus diberi wewangian hingga selesai menyampaikan hadits Rasulillah ﷺ.

Hal itu merupakan cara mengajar Imam Malik yang dilakukan di rumahnya. Setelah beliau tidak mampu duduk di Masjid Nabawi.

Diantara karya monumental yang dimiliki Imam Malik adalah al-Muwaththa'. Imam Malik Menulis al-Muwatta’ Selama 40 Tahun. Seperti disebutkan Syekh az-Zurqani dalam kitabnya Syarah Muwaththo' beliau berkata : Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul Wahid murid Imam al-Auza’ie beliau berkata:

“Kami membaca al-Muwatta’ kepada Malik selama 40 hari. Lalu Imam Malik berkata: Kitab yang telah aku karang selama 40 tahun kamu membacanya selama 40 hari? Sangat sedikitlah yang kamu akan faham apa yang terkandung di dalamnya.

Diantara murid-muridnya adalah Laits bin Sa'd, Abdirrahman ibn al-Qasim, Muhammad bin Idris as-Syafi'i (Imam Syafi'i) dan masih banyak lagi.

Beliau wafat pada tahun 179 Hijriyah dan di makamkan di Baqi' dekat dengan makam Sayyid Ibrahim putra Nabi Muhammad ﷺ.

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah ullama-ulama salaf kita mereka merupakan orang yang tekun dalam belajar sehingga memiliki ilmu yang luas, disamping itu mereka juga didukung oleh lingkungan yang baik. Peran keluarga dalam mendidik anak sangat berpengaruh terhadap bertumbuhnya seorang anak agar menjadi pribadi yang berakhlak, serta berilmu. Kisah ini juga mengajarkan kepada kita bahwa identitas umat islam itu dilihat dari akhlaknya jangan sampai kita mudah terombang-ambing oleh kemajuan teknologi ini. Ulama kita telah mengajarkan bagaimana kita memuliakan guru, memuliakan kitab, dan lain sebagainya. Mereka diajarkan dari gurunya sehingga sampai kepada Baginda Rasul ﷺ. Sebagaimana diisebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk melengkapi kesempurnaan akhlak”. (HR. Baihaqi)

Refrensi

Manshur Rabih Bujallul. Madkhal ila madzhab al-Maliki. Dar an-Nahdhah.

Muhammad bin Abdil Baqi Az-Zurqani. Syarah az-Zurqani 'ala al-Muwaththa'. Turats.

Ibnu 'Abdil Bar. at-Tamhid.

al-Qodhi Iyadh. Tartibul Madarik.

Biografi Imam Malik ulama agung Madinah

Biografi Imam Malik ulama agung Madinah Diantara Imam Madzhab yang masyhur dikalangan umat islam adalah Imam Malik rahimahullah. Beliau merupakan salah satu ulama yang gagasan pemikirannya dalam hukum islam masih di amalkan oleh sebagian umat islam di dunia ini. Diantara negara yang menganut Madzhab Maliki adalah Libya, Tunisia, Maroko dan negara-negara afrika utara yang lain. Sebab tersebarnya Madzhab Maliki diantaranya karena Imam Malik bermukim di Madinah. Dan Madinah merupakan tempat singgah umat Islam setiap tahunnya untuk melakukan ibadah haji. Imam Malik termasuk ulama Agung dalam Islam. Beliau juga merupakan guru dari Imam Syafi'i. Beliau dijuluki Imam Darul Hijrah karena orang-orang pada waktu itu mereka mendatangi Imam Malik untuk berguru kepadanya. Beliau juga dijuluki Faqihul Ummah (ahli fiqih dizamannya) Julukan beliau Abu Abdillah dan Nama beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi 'Amir bin 'Amr bin Ghaiman bin Khutsail bin 'Amr bin al-Harits al-Ashbahi. Imam Malik bin Anas lahir di Madinah tepatnya di desa Dzu Marwah pada tahun 93 Hijriyah. Bertepatan pada tahun wafatnya Sahabat Nabi yang Agung Anas bin Malik al-Anshory Khadim Nabi ﷺ. Imam Malik tumbuh dalam keluarga yang ahli ilmu dan fiqih. Ayahnya adalah seorang yang bertakwa dan cerdas, beliau mendidik anak-anak nya dan mengajarkannya serta mengarahkannya kepada ilmu dan fiqih. Beliau adalah salah seorang periwayat hadits. Pengaruh orang tua terhadap anaknya sangat besar oleh karena itu Imam Malik seperti yang kita kenal sekarang ulama madzhab yang pendapatnya masih bertahan meskipun melewati kurun waktu yang lama. Imam Malik diarahkan Ibunya sejak dini. Sebagaimana disebutkan bahwa " Dahulu ibuku memakaikan jubah padaku dan memakaikan sorban pada waktu aku kecil. Dan mengarahkanku agar pergi ke Rabi'ah bin Abi Abdirrahman dan berkata : يَا بُنِيَّ، ائْتِ مَجْلِسَ رَبِيعَةَ، فَتَعَلَّمْ مِنْ سَمْتِهِ وَأَدَبِهِ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ مِنْ حَدِيثِهِ وَفِقْهِهِ Wahai anakku pergilah ke Majlis Rabi'ah. Pelajarilah dari akhlak dan adabnya sebelum kamu mempelajari hadits dan fiqih darinya." Imam Malik belajar kepada 900 guru. 300 dari kalangan tabi'in dan 600 dari kalangan tabi'it tabi'in. Diantaranya adalah Imam Nafi' al-Qari', Imam Rabi'ati ar-Ra'yi, Imam Nafi' Maula ibni Umar, Imam Ibni Hurmuz, Ibni Syihab az-Zuhri dan lain-lain. Cara Imam Malik dalam mengajar ada 2 macam. Pertama ketika beliau mengajar hadits dan kedua ketika beliau mengajar fiqih. Qadhi Iyadh meriwayatkan dari Muthorrif. "Pada waktu ketika Imam Malik didatangi oleh sekelompok orang. Pelayan perempuannya keluar menemui mereka dan berkata : Syekh (Imam Malik) bertanya kepada kalian. Apakah kalian ingin belajar Hadits atau belajar Masail (Fiqih). Ketika mereka menjawab Masail maka Imam Malik langsung keluar dan mendatangi mereka. Ketika mereka menjawab Hadits beliau berkata kepada mereka: “Silakan duduk.” Lalu beliau masuk ke tempat mandinya, mandi, memakai wewangian, mengenakan pakaian yang baru, memakai jubahnya, memakai sorban, dan meletakkan selendang di atas kepalanya. Kemudian disiapkan untuknya mimbar kecil, lalu beliau keluar menemui mereka dalam keadaan telah berpakaian rapi dan memakai wewangian, dengan penuh kekhusyukan. Dan diletakkanlah kayu gaharu (untuk dibakar), sehingga beliau terus diberi wewangian hingga selesai menyampaikan hadits Rasulillah ﷺ. Hal itu merupakan cara mengajar Imam Malik yang dilakukan di rumahnya. Setelah beliau tidak mampu duduk di Masjid Nabawi. Diantara karya monumental yang dimiliki Imam Malik adalah al-Muwaththa'. Imam Malik Menulis al-Muwatta’ Selama 40 Tahun. Seperti disebutkan Syekh az-Zurqani dalam kitabnya Syarah Muwaththo' beliau berkata : Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul Wahid murid Imam al-Auza’ie beliau berkata: “Kami membaca al-Muwatta’ kepada Malik selama 40 hari. Lalu Imam Malik berkata: Kitab yang telah aku karang selama 40 tahun kamu membacanya selama 40 hari? Sangat sedikitlah yang kamu akan faham apa yang terkandung di dalamnya.” Diantara murid-muridnya adalah Laits bin Sa'd, Abdirrahman ibn al-Qasim, Muhammad bin Idris as-Syafi'i (Imam Syafi'i) dan masih banyak lagi. Beliau wafat pada tahun 179 Hijriyah dan di makamkan di Baqi' dekat dengan makam Sayyid Ibrahim putra Nabi Muhammad ﷺ. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah ullama-ulama salaf kita mereka merupakan orang yang tekun dalam belajar sehingga memiliki ilmu yang luas, disamping itu mereka juga didukung oleh lingkungan yang baik. Peran keluarga dalam mendidik anak sangat berpengaruh terhadap bertumbuhnya seorang anak agar menjadi pribadi yang berakhlak, serta berilmu. Kisah ini juga mengajarkan kepada kita bahwa identitas umat islam itu dilihat dari akhlaknya jangan sampai kita mudah terombang-ambing oleh kemajuan teknologi ini. Ulama kita telah mengajarkan bagaimana kita memuliakan guru, memuliakan kitab, dan lain sebagainya. Mereka diajarkan dari gurunya sehingga sampai kepada Baginda Rasul ﷺ. Sebagaimana diisebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk melengkapi kesempurnaan akhlak”. (HR. Baihaqi) *Muhammad Fakhir (Mahasiswa Universitas Islam al-Asmarya Zliten Libya/Anggota Lakpesdam PCINU Libya) Referensi : Manshur Rabih Bujallul. Madkhal ila madzhab al-Maliki. Dar an-Nahdhah. Muhammad bin Abdil Baqi Az-Zurqani. Syarah az-Zurqani 'ala al-Muwaththa'. Turats. Ibnu 'Abdil Bar. at-Tamhid. al-Qodhi Iyadh. Tartibul Madarik.

Muhammad Fakhir

12/22/20254 min read

Penulis

Muhammad Fakhir

Instagram @muhammad.fakhir.dasuki